0 com
Hidup ini penuh misteri, tak cukup dihadapi dengan satu skenario saja. Ketika pada suatu pagi kita melangkah ke luar rumah, ada beragam kemungkinan menanti kita. Kemungkinan-kemungkinan itu sangat banyak, bisa tak terhitung. Kita tak pernah tahu mana yang akan terjadi.
Tapi pengetahuan dan akal sehat manusia telah mengelompokkannya. Secara garis besar ada dua kemungkinan, yaitu kemungkinan baik dan kemungkinan buruk. Kemungkinan baik, marilah kita sambut dengan syukur. Kemungkinan buruk, marilah kita antisipasi sebelum terjadi.
Salah satu bentuk antisipasi atas kemungkinan buruk adalah asuransi. Karena asuransi bicara kemungkinan buruk, banyak orang lebih suka tidak membahasnya. Tapi seperti kata pepatah, “Mencegah lebih baik daripada mengobati.” Membicarakannya sekarang lebih baik daripada menyesal setelah kejadian.
Sekali lagi hidup ini dan terutama masa depan sangatlah penuh misteri, maka kita butuh beberapa skenario untuk menjalaninya. Ada sejumlah skenario yang ditawarkan asuransi, antara lain skenario jika sehat-selamat, skenario jika sakit, jika kecelakaan, jika cacat, dan jika pindah ke lain dunia.
Jika orang hanya hidup dengan satu skenario, yaitu skenario sehat-selamat saja, maka akan ada banyak kesulitan jika ternyata skenario lain yang dia alami. Seringkali kesulitan itu bukan dia sendiri yang merasakan, melainkan terutama keluarganya. Siapa yang pusing jika seorang ayah kecelakaan, apalagi sampai meninggal dunia? Istri dan anak-anaknya.
Dalam aktivitas sehari-hari, sebetulnya membuat beberapa skenario bukan hal yang asing bagi sebagian orang. Misalnya ketika hendak mudik menjelang lebaran, mereka membuat beberapa alternatif alat transportasi yang digunakan. Pilihan pertama mungkin tiket kereta. Bagaimana kalau tiket kereta habis? Pilihan berikutnya tiket bis. Bagaimana kalau tiket bis habis? Alternatifnya naik motor, atau naik travel, atau menggeser waktu mudik menjadi setelah lebaran.
Itu hanya satu contoh. Namun untuk hal yang paling urgen, yaitu kesehatan dan keselamatan, kebanyakan orang abai. Mungkin karena tidak tahu, tidak sadar, atau terlalu “percaya” kepada Tuhan.
Memang ikut asuransi itu ada biayanya. Tapi biayanya tidaklah besar dibanding manfaat yang diperoleh, yaitu tercegah dari pengeluaran yang jauh lebih besar, tak terduga, dan tak terkendali. Dan terutama: melindungi keluarga yang kita sayangi, agar kita dapat berbuat baik kepada mereka bukan hanya ketika kita jaya, tapi juga ketika kita tak berdaya, bahkan walau kita telah tiada.
(Sumber : http://myallisya.com/)
(Sumber : http://myallisya.com/)
►Diposkan oleh
:Yuuki Gasai
:
di
9:57:00 PM
Tulisan di bawah ini saya salin dengan izin dari blog Jauhari MK, seorang perencana keuangan independen, di http://finplanner-jauhari.blogspot.com/2011/09/belum-menikah-butuhkah-asuransi.html. Terima kasih. Semoga bermanfaat.
Banyak yang berpendapat termasuk beberapa pakar keuangan menyampaikan tidak ada manfaatnya bagi yang belum berkeluarga mengambil asuransi jiwa.
Kalaupun dia meninggal, belum punya tanggungan dan orang tuanya tidak membutuhkan uang tersebut. Betul, jika asumsi / kondisi-nya orang tuanya kaya. Sehingga tidak ada gunanya ambil asuransi.Saya pribadi merekomendasikan meskipun masih bujangan untuk tetap mengambil asuransi. Mengapa ?
- Masih muda sehingga bisa mendapatkan Uang Pertanggungan dan benefit lainnya dengan premi yang relatif murah.
- Bermain aman untuk masa depan, daripada menunda dan terkena musibah (sakit atau kecelakaan) yang mengakibatkan asuransinya terkena pengecualian atau bahkan ditolak.
- Memaksimalkan the magic interest compound, ini berlaku jika mengambil asuransi tipe unitlink. Sehingga hasil investasinya berbeda dengan orang yang menunda 5 tahun atau bahkan 10 tahun kemudian. Hasilnya akan jauh berlipat lipat.
- Dan satu hal yang sebetulnya ingin saya sosialisasikan ; terutama untuk yang mau ber-visi sedikit lebih jauh. Wasiatkan pada orang tua atau saudara kita bahwa Uang Pertanggungan Asuransi ini, jika meninggal sebelum dia berkeluarga untuk diberikan atau disedekahkan sebagian atau seluruhnya untuk lembaga atau yayasan sosial.
Masih banyak di sekitar kita yang membutuhkan banyak bantuan apalagi di daerah daerah pelosok di Indonesia tercinta ini. Uang Pertanggunan Asuransi merupakan sumbangan yang cukup besar bagi mereka.Apalagi untuk kalangan muslim, apakah di jamin meninggal muda akan masuk surga ? Apakah pahala kita cukup ? Atau dosa kita yang kebanyakan ?Dengan mensedekahkan uang pertanggungan, maka kita melakukan investasi amal yang akan terus menerus mengalir menambah ke timbangan pahala kita.Sehingga si bujangan atau gadis ini memiliki harapan, nanti jika saatnya di timbang kelak, timbangan pahalanya lebih berat dari dosanya, amien.Bawa Visi-mu Lebih Tinggi.
(Sumber : http://myallisya.com/)
►Diposkan oleh
:Yuuki Gasai
:
di
9:56:00 PM
Tapi jika pertanyaan di atas diajukan kepada orang yang saat ini sudah berusia di atas 50-an, apa jawabannya? Saya memperkirakan setidaknya ada lima kemungkinan jawaban, tergantung kondisi yang bersangkutan:
1. Tidak Butuh
Jika si orang tua telah berinvestasi dengan baik semasa muda, dan kini aset-asetnya sudah bejibun, semua anaknya sudah mandiri, dan tidak lagi punya utang, maka dia tidak butuh asuransi jiwa. Yang dia butuhkan hanya asuransi kesehatan, atau sejumlah uang yang cukup untuk membayar biaya-biaya kesehatannya.
2. Butuh
Jika si orang tua tidak berinvestasi sejak muda, atau sekarang masih punya anak yang harus dinafkahi, atau utangnya belum lunas, maka dia masih butuh asuransi jiwa.
3. Perlu
3. Perlu
Mungkin anak-anak sudah mandiri, tapi hidup mereka masih pas-pasan. Tempat tinggal masih ngontrak atau malah masih numpang. Ingin kredit rumah, DP-nya kemahalan. Dan melihat perkembangan karir mereka sekarang, sepertinya butuh waktu sangat lama bagi mereka untuk mengumpulkan uang kontan puluhan juta untuk bayar DP rumah, atau mungkin tidak akan kesampaian.
Si orang tua ingin sekali membantu anak-anaknya, tapi hartanya juga tidak banyak-banyak amat. Maka salah satu cara yang bisa dia tempuh adalah mengambil asuransi jiwa. Tepatnya asuransi jiwa yang bisa berlaku seumur hidup. Saya kira UP 100 juta atau 200 juta akan sangat berharga untuk anak-anaknya. Dan untuk orang tua di atas 50-an, preminya malah lebih murah di unit link daripada di term life. Selain itu unit link bisa berlaku seumur hidup, term life tidak.
Dengan cara ini, walaupun ketika hidupnya si orang tua melihat anak-anaknya masih ngontrak, ia bisa memastikan anak-anaknya punya rumah ketika ia meninggal dunia.
4. Ingin
Jika si orang tua telah punya aset yang cukup, tidak lagi punya tanggungan dan utang, anak-anaknya juga sudah mandiri dan mapan, maka bisa saja dia mengambil asuransi jiwa atau mempertahankan asuransi jiwa yang telah dimilikinya.
Lalu untuk apa uang pertanggungannya?
Untuk disedekahkan.
Saya ingin menegaskan poin keempat ini. Marilah kita berpikir lebih jangka panjang, bervisi lebih akhirat. Uang pertanggungan asuransi jiwa, mungkin 1 miliar, 500 juta, atau hanya 100 juta, akan cukup besar nilainya jika disumbangkan. Pernahkah anda menyumbang uang sebesar itu untuk pembangunan masjid? Atau untuk panti asuhan? Atau untuk sebuah lembaga pendidikan? Atau untuk lembaga penelitian kanker? Atau untuk memodali seorang yang tengah merintis usaha keluar dari kemiskinan?
Dengan memiliki asuransi jiwa, kita bisa menyumbang uang sebesar yang bisa dilakukan orang-orang kaya dan dermawan. Asal tempat penyalurannya tepat, sedekah kita akan bernilai jariyah, yang pahalanya mengalir terus sampai hari kebangkitan. Semoga.
5. Tidak Bisa
Ada orang tua yang sebetulnya masih butuh asuransi jiwa; dia masih punya anak kecil, KPR belum lunas, dan anak yang paling tua pun belum mapan ekonominya.
Tapi asuransi jiwa bukan barang yang gampang dibeli siapa saja. Hanya orang-orang tertentu yang bisa memiliki asuransi jiwa, yaitu mereka yang sehat.
Jika orang yang sudah tua ini tidak sehat lagi fisiknya, walaupun punya uang dia tidak akan bisa beli asuransi jiwa.
(Sumber : http://myallisya.com/)
(Sumber : http://myallisya.com/)
►Diposkan oleh
:Yuuki Gasai
:
di
9:54:00 PM
Menakut-nakuti berarti berkata tentang hal-hal yang TIDAK AKAN terjadi tapi dibilang akan terjadi. Sedangkan mengingatkan adalah berkata tentang hal-hal yang MUNGKIN terjadi. Kedua hal itu jelas berbeda.
Ingin ataupun tidak ingin, yang namanya sakit, kecelakaan, dan kematian tetaplah mungkin dialami oleh manusia. Tinggal apakah kita sudah siap atau tidak ketika hal-hal yang tidak diinginkan itu menerpa.
Asuransi merupakan satu bentuk persiapan dari sisi keuangan.
Saya setuju, asuransi terbaik adalah disiplin menjaga kesehatan dan selalu waspada terhadap segala kemungkinan. Tapi baik punya asuransi atau tidak, menjaga kesehatan itu wajib. Selain itu, ada beberapa hal yang di luar kendali manusia. Jadi, hendaknya kita senantiasa berendah hati, menjauhi sikap angkuh, dan tetap bertawakal kepada Tuhan.
Tawakal berarti menyerahkan segalanya kepada Tuhan setelah sebelumnya berikhtiar mengupayakan segala yang kita bisa. Bukan tawakal namanya kalau tanpa ikhtiar. Dan ikhtiar itu pun harus dilakukan sesuai ilmunya. Ikhtiar yang dilakukan tanpa ilmu, hasilnya tidak akan maksimal.
Asuransi adalah sebetuk ikhtiar, dan merupakan ikhtiar yang sesuai dengan ilmu perencanaan keuangan di zaman modern ini.
►Diposkan oleh
:Yuuki Gasai
:
di
9:51:00 PM
Sadar asuransi itu baik, tapi tidak setiap risiko perlu diasuransikan.
Mengapa?
Alasannya dapat disimpulkan dalam empat kalimat:
- Untuk hal-hal yang dampak keuangannya MASIH SANGGUP KITA TANGGUNG, kita tidak memerlukan asuransi.
- Untuk hal-hal yang BUKAN MUSIBAH, jelas bukan ranahnya asuransi.
- Untuk hal-hal yang WAKTUNYA DAPAT DIKETAHUI, solusinya bukan asuransi.
- Untuk asuransi yang PREMINYA SANGAT MAHAL, mendingan tidak usah kita beli.
Rawat Jalan dan Rawat Gigi
Kenapa rawat jalan dan rawat gigi sebaiknya tidak dipersiapkan lewat asuransi?
- Biaya berobat jalan dan gigi tidaklah besar, mulai puluhan sampai ratusan ribu saja. Bahkan beberapa penyakit ringan tidak diobati pun sembuh sendiri. Secara umum, dampak keuangan dari rawat jalan dan gigi masih sanggup ditanggung sendiri.
- Preminya mahal sekali, sementara manfaatnya sangat kecil (untuk maksimum manfaat sebesar 10 juta, preminya sekitar 5 juta setahun). Bisa-bisa preminya lebih mahal daripada pemakaian rawat jalan dan gigi dalam setahun.
- Sistem klaimnya biasanya reimburse (bayar dulu, baru ajukan klaim).
- Pihak asuransi tidak menanggung seluruh biaya (berlaku co-share, misalnya 20% ditanggung nasabah, 80% oleh asuransi).
- Asuransi rawat jalan tidak ada yang berdiri sendiri, selalu merupakan rider (tambahan) pada asuransi kesehatan rawat inap. Jadi jika niatnya hanya untuk menanggung biaya rawat jalan, anda harus mengeluarkan uang lebih untuk bayar premi rawat inapnya.
Saran:
- Siapkan dana darurat secukupnya. Dana ini bisa dipakai sewaktu-waktu jika pergi ke dokter. Jika tidak dipakai, uang anda utuh.
- Bisa pakai BPJS Kesehatan. Premi sangat murah. 25 ribu sd 59,5 ribu per bulan.
Persalinan/Melahirkan
Biaya persalinan atau melahirkan perlu dipersiapkan, tapi sebaiknya bukan lewat asuransi. Kenapa?
- Melahirkan anak bukan musibah, melainkan anugerah.
- Melahirkan anak tidak terjadi secara tiba-tiba. Waktunya dapat diketahui dan diperkirakan, jadi siapa pun mestinya bisa mengumpulkan uang sejak awal kehamilan.
- Kalau melahirkan di bidan, biayanya tidak besar. Melahirkan di rumah sakit pun tidak terlalu mahal. Kalaupun harus operasi cesar biayanya masih dapat diukur.
- Preminya mahal sekali, sementara manfaatnya kecil (untuk maksimum manfaat sebesar 10 juta, preminya sekitar 5 juta setahun). Kalau ada yang protes: kok preminya mahal? Saya tanya balik: yang mau hamil siapa? Hehe…
- Asuransi untuk persalinan hanya bisa diambil di saat belum hamil. Kalau sudah hamil, tidak bisa ambil. Jadi besar kemungkinan premi yang mahal itu hangus (50:50).
- Biaya melahirkan anak bukan hanya di proses persalinan, tapi biaya-biaya di luar itu seringkali lebih besar, seperti suplemen kesehatan ibu, pakaian anak, tasyakuran dan akikahan, dan lain-lain yang tentu saja tidak ditanggung asuransi.
- Seperti halnya asuransi rawat jalan, asuransi melahirkan pun tidak ada yang berdiri sendiri, selalu merupakan rider (tambahan) pada asuransi kesehatan rawat inap. Jadi jika niatnya hanya untuk menanggung biaya melahirkan, anda harus mengeluarkan uang lebih untuk bayar premi rawat inapnya.
- Sedikit banyak, menurut saya asuransi melahirkan itu mirip dengan JUDI. Jika hamil, nasabah untung dobel: mendapat anak + bantuan untuk biaya persalinan. Jika tidak hamil, nasabah rugi dobel: tidak mendapat anak + premi hangus. (Bedakan misalnya dengan asuransi kesehatan rawat inap: Jika rawat inap, nasabah mendapat bantuan biaya rawat inap. Jika tidak rawat inap, nasabah mendapatkan kesehatan).
Saran:
- Menabunglah sejak awal kehamilan atau lebih awal lagi. Anda tahu berapa yang harus ditabung, dengan menghitung kebutuhannya dan waktu yang dimiliki.
- Untuk proses persalinan bisa dibantu dengan JKN dari BPJS Kesehatan.
Pendidikan Anak
Dana pendidikan harus dipersiapkan, tapi sebaiknya bukan lewat asuransi. Kenapa?
- Bersekolah bukan musibah.
- Waktunya dapat diperkirakan dan direncanakan, tidak terjadi secara tiba-tiba, jadi setiap orangtua akan memiliki waktu untuk mempersiapkannya.
- Dana pendidikan bisa sangat besar. Tak ada asuransi yang sanggup menanggung semuanya, kecuali preminya juga besar sekali.
- Persiapan biaya pendidikan bukan ranah asuransi, tapi investasi.
Saran:
- Berinvestasilah sedini mungkin. Menabung saja tidak akan cukup karena ada faktor inflasi.
- Jika sejumlah dana telah terkumpul, alihkan pada aset-aset yang nilainya tidak tergerus oleh inflasi. Contoh: emas, perak, tanah, rumah, ruko.
- Pada saat yang sama, orangtua harus memiliki asuransi jiwa dengan uang pertanggungan yang cukup seandainya terjadi risiko yang tidak diinginkan di tengah perjalanan, terutama meninggal dunia, cacat tetap, dan penyakit kritis. Tiga risiko ini dapat menggagalkan pendidikan anak anda.
Pensiun
Seperti halnya dana pendidikan, dana pensiun pun harus dipersiapkan, tapi sebaiknya bukan lewat asuransi. Kenapa?
- Pensiun bukan musibah.
- Waktunya dapat diperkirakan dan direncanakan, tidak terjadi secara tiba-tiba, jadi setiap orang mestinya punya cukup waktu untuk mempersiapkannya.
- Dana yang dibutuhkan untuk bisa pensiun akan sangat besar. Tak ada asuransi yang sanggup menanggung semuanya, kecuali preminya juga besar sekali.
- Persiapan dana pensiun bukan ranah asuransi, tapi investasi.
Saran:
- Berinvestasilah sedini mungkin. Menabung saja tidak akan cukup karena ada faktor inflasi.
- Jika sejumlah dana telah terkumpul, alihkan pada aset-aset yang nilainya tidak tergerus oleh inflasi. Contoh: Emas, perak, tanah, rumah, ruko.
- Pada saat yang sama, kita harus memiliki asuransi jiwa dengan uang pertanggungan yang cukup seandainya terjadi risiko yang tidak diinginkan di tengah perjalanan, terutama proteksi cacat tetap dan penyakit kritis. Dua risiko ini dapat membatalkan rencana pensiun anda.
- Saran lain: Bergabunglah dengan bisnis yang dapat memberikan anda penghasilan pasif untuk jangka panjang. Ini yang saya lakukan, seperti saya ceritakan di SINI.
Jadi, Hal-hal Apa Saja Yang Sebaiknya Dipersiapkan Melalui Asuransi?
Untuk mengetahui hal-hal apa saja yang memerlukan asuransi, caranya tinggal membalik saja empat prinsip di atas, yaitu:
- Untuk hal-hal yang dampak keuangannya TIDAK SANGGUP KITA TANGGUNG, kita memerlukan asuransi.
- Untuk hal-hal yang MERUPAKAN MUSIBAH, kita memerlukan asuransi.
- Untuk hal-hal yang WAKTUNYA TIDAK DAPAT DIKETAHUI, solusinya adalah asuransi.
- Untuk asuransi yang PREMINYA MASUK AKAL (WORTH IT), itulah yang kita beli.
Apa sajakah itu?
Berkaitan dengan risiko fisik (jiwa dan kesehatan), ada empat hal yang memerlukan asuransi:
1. Rawat inap dan pembedahan (hospital and surgical, atau asuransi kesehatan). Biaya mulai jutaan sd puluhan juta rupiah. Asuransi kesehatan wajib untuk setiap orang dalam keluarga. Minimal JKN-BPJS harus punya.
2. Penyakit kritis. Biaya mulai ratusan juta sd miliaran rupiah, untuk perawatan di rumah sakit dan juga pemulihan fisik. Jika tidak pulih, bisa berakibat tidak bisa bekerja sehingga tidak punya penghasilan. Asuransi ini perlu dimiliki oleh setiap orang dalam keluarga, dan wajib bagi pencari nafkah.
3. Cacat tetap, baik sebagian maupun total, karena sakit ataupun kecelakaan. Akibatnya tidak bisa bekerja sehingga penghasilan hilang atau berkurang signifikan. Asuransi ini wajib untuk pencari nafkah dalam keluarga.
4. Meninggal dunia. Akibatnya tidak bisa bekerja (ya iyalah) sehingga penghasilan pun terputus. Asuransi ini wajib untuk pencari nafkah dalam keluarga.
Bukan kebetulan bahwa premi untuk empat risiko di atas tergolong jauh lebih murah dibandingkan premi untuk asuransi yang menanggung rawat jalan, persalinan, pendidikan, dan pensiun.
Demikian. []
►Diposkan oleh
:Yuuki Gasai
:
di
9:49:00 PM
Untuk melihat alasan mengapa saya jadi agen asuransi, mari kita lihat apa saja yang ditawarkan profesi ini:
1. Waktu kerja fleksibel. Bisa diatur sendiri. Bisa dimulai sebagai bisnis sampingan.
2. Tempat kerja fleksibel. Tidak harus ngantor tiap hari.
3. Tanpa hubungan bos-karyawan. Diri sendiri adalah pebisnis.
4. Modal kecil, sehingga risiko pun kecil atau bahkan tidak ada.
5. Hasil besar, terus bertambah setiap bulan, dan penghasilan pasif hingga tak terbatas. Di bisnis ini ada faktor 24x: kerja 1 bulan, dibayar 24 bulan. Juga ada royalti 5 generasi. Inilah kebebasan finansial + kebebasan waktu.
6. Keamanan kerja. Tidak akan dipecat selama memenuhi syarat maintenance, dan penghasilan akan tetap diperoleh meskipun setahun tidak kerja.
7. Produk yang dijual merupakan kebutuhan manusia. Kebutuhan menimbulkan permintaan. Selama ada permintaan, bisnis akan tetap jalan.
8. Bisnis jangka panjang. Sesuai dengan sifat produknya yang dibutuhkan manusia sejak lahir hingga meninggal dunia.
9. Membantu banyak orang, produk maupun bisnis. Produk memberikan perlindungan, bisnis memberikan penghasilan. Tidak salah jika dikatakan, agen asuransi adalah The Nobel Job (profesi mulia atau terhormat).
10. Jaringan bisnis bisa diwariskan, kepada pasangan atau anak. Kerja seumur hidup tidak sia-sia.
11. Rendah stres. Tanpa utang-piutang, tanpa stok barang, tidak mikirin gaji karyawan.
12. Menambah teman. Bertemu klien dari beragam kalangan. Semua rekan kerja adalah para pebisnis.
13. Meningkatkan kualitas diri dan kepemimpinan. Melalui interaksi mendalam dengan banyak orang dan rekan-rekan pebisnis, secara otomatis kita dilatih untuk lebih rendah hati, lebih melayani, selalu bersikap positif, kuat mental, dan lain-lain.
14. Banyak penghargaan bagi agen yang berprestasi. Trip ke luar negeri, nama dimuat koran, MDRT, MDIT, dll.
15. Keseimbangan hidup terjaga. Bisa mengatur waktu untuk keluarga, berlibur, kegiatan ibadah, hobi, dan lain-lain.
Adakah bisnis atau profesi lain yang menawarkan sekaligus semua hal di atas?
Mengapa Allianz?
Mari kita lihat dari tiga aspek: perusahaan, produk, dan sistem bisnis.
Perusahaan
Perusahaan merupakan faktor penunjang yang penting bagi keberhasilan bisnis, apalagi dalam bisnis yang mensyaratkan kepercayaan.
1. Brand atau merek ternama. Penjualan jadi lebih mudah.
2. Perusahaan asuransi terbesar dunia. (Versi majalah Forbes, klik di SINI). Di Indonesia masuk 4 besar dan terus bertumbuh menjadi yang terbesar.
3. Jaringan luas di seluruh dunia. Beroperasi di > 70 negara, dengan jumlah nasabah > 78 juta. Di Indonesia sudah ada di 40 kota, 80 titik pelayanan, lebih dari 10 ribu agen, dan 1.200 karyawan.
4. Teruji waktu. Didirikan tahun 1890, sudah lebih dari 120 tahun. Di Indonesia sejak 1996, lebih dari 15 tahun.
5. Sponsor berbagai cabang olahraga. Sepakbola (pemilik klub Bayern Munchen dan stadion Allianz Arena), balap mobil F-1, golf, paralimpik, dll.
6. Peduli lingkungan hidup dan persoalan kemanusiaan. (Penjelasan nomor 4-5, silakan dibaca di artikel Nilai Lebih Allianz).
Produk
Allianz mendefinisikan produk asuransi secara baru, yang berawal dari keprihatinan mendalam atas problem terbesar yang dialami semakin banyak penduduk dunia dari waktu ke waktu.
1. Fokus melindungi 1 yang terpenting: PENGHASILAN, melalui proteksi jiwa, cacat, dan penyakit kritis.
2. Produk unggulan proteksi penyakit kritis. Membantu orang di saat-saat paling membutuhkan dengan sejumlah uang tunai yang besar. Jika momen pembuktian itu tiba (klaim penyakit kritis), kepuasannya sangat terasa.
3. Menanggung 49 sd 100 kondisi penyakit kritis, mulai usia 6 bulan sd 100 tahun. Terbaik, terlengkap, termurah di Indonesia.
4. Bisa terus repeat order. Asuransi jiwa dan penyakit kritis bisa tetap dijual walaupun orang sudah punya banyak asuransi. Beda sekali jika jualan utamanya kartu asuransi kesehatan cashless.
5. Tersedia produk syariah. Penting bagi kalangan yang peduli nilai-nilai spiritual dan kesucian dalam setiap aktivitas ekonomi.
Sistem Bisnis
Sistem bisnis atau marketing plan ASN (Allianz Star Network) merupakan revolusi di industri asuransi, dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Jenjang karier simpel hanya dua level. BE (Business Executive) dan BP (Business Partner).
2. Promosi dari BE ke BP bisa dalam hitungan bulan, tanpa harus menunggu sampai akhir tahun.
3. Syarat naik level relatif mudah. Hanya penjualan pribadi 200 juta. Tanpa merekrut.
4. Syarat maintenance BP sangat ringan. Hanya penjualan unit 300 juta dalam setahun. Sendirian pun bisa.
5. Royalti hingga kedalaman 5 generasi BP. Sumber panghasilan pasif yang besar dalam jangka panjang.
Tertarik jadi agen Allianz juga? Hubungi saya untuk Menjadi Agen Allianz
Terima kasih.
Salam,
Ryswand
HP/WA: 0812-8149-2083 / 0896-5890-1143 | Email: ryswandleaf@gmail.com
(Sumber : http://myallisya.com/)
(Sumber : http://myallisya.com/)
►Diposkan oleh
:Yuuki Gasai
:
di
9:47:00 PM
by Asep Sopyan
Nilai-lebih bisa menyangkut kualitas produk, pelayanan (pra dan purnajual), kemudahan klaim, dan reputasi perusahaan. Allianz memiliki semua itu, dan soal reputasi, Allianz masuk peringkat 20 dalam 2000 perusahaan terbesar dunia versi Forbes (April 2011). Ini peringkat tertinggi di kategori perusahaan asuransi.
Tapi bagi saya, yang memilih Allianz sebagai nasabah lalu sbg agen, nilai-lebih itu terutama berkaitan dengan sesuatu di luar urusan ekonomi dan kalkulasi keuntungan. Sekadar sharing kenapa saya memilih Allianz:
Jadi sponsor olahraga boleh dikatakan beriklan juga, tapi iklan yg lebih bermanfaat dan cerdik ketimbang sekadar beriklan di TV.
Kedua, Allianz memiliki komitmen yang tinggi terhadap pelestarian lingkungan hidup. Kantor pusat Allianz Life Indonesia bertempat di Allianz Tower, satu dari sedikit gedung di Jakarta yang menerapkan konsep ESD (Environmental Sustainable Design). Allianz bersama beberapa perusahaan besar lain ikut menandatangani Deklarasi Tokyo dlm program Climate Savers WWF. Allianz juga bekerja sama dengan Yayasan Kehati (Keanekaragaman Hayati) membuka program Green Fund (dana utk mendukung perusahaan yg memproduksi produk dan teknologi ramah lingkungan). Lalu Allianz pun berinvestasi (bukan sekadar berpartisipasi dengan membeli sertifikat karbon) dalam program REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation). Salah satu lokasi program REDD Allianz adalah Indonesia. Dengan bergabung di Allianz, saya merasa telah ikut berperan dalam penyelamatan hutan-hutan di Indonesia dan dunia. Dana yang digunakan untuk investasi REDD dan lain-lain, dari mana lagi jika asal-muasalnya bukan dari nasabah?
Dengan segala kepedulian pada lingkungan ini, tak heran jika saham Allianz tergolong “saham hijau” dan mendapat peringkat sangat baik dalam Dow Jones Sustainability Index, yaitu perusahaan dengan performa sangat baik terhadap lingkungan.
Ketiga, Allianz punya kepedulian tinggi terhadap problem kemanusiaan.Allianz Indonesia, lewat Yayasan Allianz Peduli, beberapa kali mengadakan baksos di lokasi bencana alam, rutin mengadakan program donor darah di berbagai kota, membangun sebuah SDN di Aceh sekaligus membuka program orangtua asuh utk anak-anak di SD tsb, dll.
Keempat, Allianz menyediakan produk syariah yang memastikan dana nasabah tidak akan diinvestasikan di bidang usaha riba (sprt bank konvensional), judi, miras, dan rokok. Digabung dengan keterlibatan Allianz pada kampanye perubahan iklim, dana nasabah juga dipastikan tidak akan ditaruh di saham perusahaan-perusahaan yg merusak lingkungan.
Masih banyak nilai-lebih lain yang dimiliki Allianz. Saya hanya tahu sedikit, dan sudah saya bagikan di atas. Semua informasi ttg nilai-lebih Allianz ini bisa dibaca di website Allianz Indonesia, http://www.allianz.co.id. Ada juga dari newsletter Allianz. Dan sebagian lagi sy dapat lewat Google dg kata kunci “Allianz dan perubahan iklim”.
►Diposkan oleh
:Yuuki Gasai
:
di
9:38:00 PM
Subscribe to:
Posts (Atom)
Artikel Allianz
Disusun Oleh Rysva. Powered by Blogger.