0 com
Sebuah risiko (kemungkinan timbulnya kerugian atau kerusakan) tidak dapat dihindari, tapi dampak risiko tersebut dapat diminimalkan.
Risiko dapat diminimalkan dengan beberapa cara.
1. Menghindari risiko
Menghindari risiko dapat dilakukan dengan menghilangkan kebiasaan atau kegiatan yang mungkin menimbulkan risiko. Contohnya, seseorang yang khawatir terkena kanker paru-paru akibat kebiasaannya merokok, dapat menghindarinya dengan cara menghentikan kebiasaan tersebut.
2. Mengendalikan risiko
Mengendalikan risiko dapat dilakukan dengan cara mengurangi frekuensi dan dampak dari kerugian yang mungkin timbul. Contohnya, seorang pengendara motor harus mengenakan helm dan merawat motornya secara berkala, untuk mengendalikan kerugian yang mungkin timbul.
3. Menerima risiko
3. Menerima risiko
Menerima risiko dilakukan dengan cara mempertahankan risiko yang ada. Contoh, seorang kaya dengan harta yang banyak mungkin tidak merasa perlu untuk membeli asuransi kesehatan karena dia berpikir dapat membiayai dokter apabila dia sakit.
4. Mengalihkan risiko
Mengalihkan risiko dapat dilakukan dengan cara mentransfer risiko dari seorang individu ke sebuah perusahaan. Contoh, seorang kepala keluarga yang khawatir keluarganya kehilangan pendapatan apabila dirinya terkena sakit atau meninggal dunia, dapat membeli produk asuransi dari perusahaan asuransi jiwa.
Perusahaan asuransi jiwa mengelola risiko dengan cara:
- Memindahkan dampak kerugian dari seorang individu kepada sebuah grup;
- Membagi kerugian yang dialami oleh individu tersebut kepada seluruh anggota grup.
Ilustrasi
- Kita asumsikan ada 1000 orang yang berusia 50 tahun dan dalam keadaan sehat. Namun diperkirakan, 10 orang di antaranya akan meninggal dunia tahun ini.
- Misalnya saja, nilai ekonomis kerugian yang ditanggung oleh satu keluarga yang ditinggalkan adalah sekitar 200 juta, jadi total kerugian 10 keluarga sekitar 2 miliar.
- Bila setiap orang dari grup tersebut (1000) orang menyumbang 5 juta rupiah per tahun untuk dana bersama, maka dana yang terkumpul sebesar 5 miliar rupiah.
- Jumlah tersebut tentu cukup untuk mengganti kerugian 200 juta rupiah kepada setiap keluarga yang ditinggalkan.
- Artinya, risiko yang dihadapi oleh 10 orang tadi disebar ke 1000 orang yang tergabung dalam grup tersebut.
Tahapan Bisnis Asuransi Jiwa
- Menyatukan, yaitu menyatukan orang-orang dengan kepentingan asuransi yang sama, dengan tujuan untuk membagi risiko yang sama.
- Mengumpulkan, yaitu mengumpulkan dana atau premi dari sekumpulan orang yang telah disatukan tadi.
- Membayar, yaitu membayar kompensasi atau klaim kepada mereka yang menderita kerugian.
Faktor-faktor Penentu Jumlah Premi
Dalam bisnis asuransi, risiko-risiko yang dihadapi setiap individu dipindahkan ke pihak penanggung (perusahaan asuransi jiwa), yang setuju untuk mengganti kerugian dalam jumlah tertentu sebagaimana disebutkan dalam kontrak polis. Untuk mengganti kerugian ini, perusahaan asuransi menetapkan premi yang harus dibayar individu yang menjadi tertanggung. Dalam menetapkan premi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Kemungkinan kerugian
- Nilai dari setiap kerugian
- Biaya administrasi yang diperlukan untuk menjalankan usaha, seperti mengumpulkan premi dari setiap anggota, mengukur kerugian, membayar klaim, dll.
- Ambang kesalahan yang mungkin timbul saat memprediksi kerugian
- Faktor-faktor lainnya seperti faktor finansial, kesehatan, dan sosial.
Kesalahan dalam mengukur faktor-faktor tersebut dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan asuransi jiwa, seperti menetapkan premi lebih kecil dari seharusnya.
Bisnis asuransi jiwa tidak lain adalah saling berbagi. Hal ini bertujuan untuk menyebar kerugian yang diderita seseorang ke seluruh anggota grup yang mengharapi risiko sama.
Perusahaan asuransi bertindak sebagai sebuah perwakilan, mengelola dana yang dikumpulkan atas nama komunitas grup tersebut. Perusahaan asuransi jiwa juga harus mengatur sedemikian rupa sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan.
Tidak semua risiko dapat diasuransikan. Sebuah risiko dapat diasuransikan apabila:
- Memungkinkan bagi perusahaan asuransi jiwa untuk menghitung kerugian secara finansial.
- Terdapat sejumlah orang dengan jenis risiko yang sama.
- Nilai ekonomis atau jiwa yang diasuransikan dan risiko yang ditanggung memiliki kepentingan asuransi (insurable interest).
Hukum Bilangan Besar (Law of Large Number)
Asuransi jiwa, sebagai alat untuk menyebar risiko, hanya dapat bekerja apabila perusahaan asuransi jiwa mampu menanggung risiko yang sama dalam jumlah yang besar. Di sini berlakulah apa yang disebut hukum bilangan besar (law of large number). Hukum bilangan besar menyatakan bahwa apabila jumlah eksposur kerugian meningkat, maka prediksi kerugian akan semakin mendekati jumlah kerugian yang nyata (actual loss). Penggunaan hukum bilangan besar memungkinkan jumlah kerugian dapat diprediksi dengan lebih baik.
(Sumber : http://myallisya.com/)
(Sumber : http://myallisya.com/)
►Diposkan oleh
:Yuuki Gasai
:
di
10:11:00 AM
Siapa orangtua yang tidak ingin mewariskan sesuatu yang berharga untuk keluarganya? Semua orangtua pasti ingin. Namun tidak setiap orangtua mampu mengumpulkan harta yang cukup banyak untuk diwariskan. Kebanyakan orang tidak mampu membeli tanah yang luas, emas yang banyak, atau aset yang berlimpah.
Namun dengan sedikit disiplin, setiap orang yang berpenghasilan sebenarnya bisa memberikan warisan yang besar, setidaknya untuk ukuran dia, bagi keluarganya seandainya dia meninggal dunia. Caranya dengan mengikuti asuransi jiwa.
Ada yang mengatakan, asuransi jiwa adalah hadiah terindah untuk istri dan anak-anak. Ya, sebab ketika suami meninggal dunia, meski istri dan anak-anaknya bersedih, mereka akan mendapatkan sesuatu untuk mengurangi kesusahan ekonomi akibat kematian suaminya.
Tapi bukan hanya itu. Asuransi jiwa bisa jadi merupakan warisan terbesar yang bisa diberikan seorang ayah bagi keluarganya yang ia tinggalkan.
Tapi bukan hanya itu. Asuransi jiwa bisa jadi merupakan warisan terbesar yang bisa diberikan seorang ayah bagi keluarganya yang ia tinggalkan.
Tapi tidak setiap produk asuransi jiwa bisa dijadikan warisan. Asuransi jiwa yang bisa dijadikan waisan hanya asuransi jiwa yang berlaku seumur hidup, yaitu whole-life dan unit link. Asuransi jiwa berjangka (term-life) pun bisa jadi warisan, dengan satu syarat: meninggal dunia pada masa perlindungan.
Tinggal pilih, dengan beberapa pertimbangan, antara lain besarnya UP (uang pertanggungan) dan premi.
►Diposkan oleh
:Yuuki Gasai
:
di
10:02:00 PM
Perencanaan keuangan belumlah lengkap tanpa asuransi, terutama asuransi jiwa. Kita sudah berusaha dengan susah payah mengumpulkan uang untuk kebutuhan masa depan, tiba-tiba pada suatu waktu musibah datang. Mungkin sakit kritis, mungkin kecelakaan. Dalam sekejap, uang yang telah terkumpul bisa hilang. Dan jika musibah itu berupa kematian pada orang yang menjadi tumpuan penghasilan, keluarga yang ditinggalkan akan kebingungan dalam kesedihan.
Asuransi melindungi hasil usaha kita (penghasilan, tabungan, investasi, aset) dari risiko yang mungkin terjadi dalam masa perjanjian, seperti sakit, kecelakaan, dan kematian. Asuransi tidak berwenang mencegah terjadinya musibah. Kita pun tentunya berharap hidup kita senantiasa aman tenteram sentosa selamanya. Tapi jika misalnya peristiwa tak diinginkan itu datang, asuransi akan meringankan beban kita dalam masalah keuangan.
Sakit butuh duit. Kecelakaan menguras uang. Kematian pun ada ongkosnya, khususnya bagi yang ditinggalkan. Tanpa asuransi, bisa jadi penghasilan kita, tabungan, hasil investasi, dan aset akan tersedot untuk membiayai hal-hal itu. Padahal mestinya penghasilan itu kita gunakan untuk biaya hidup, tabungan untuk pendidikan anak, hasil investasi untuk ibadah haji, dan aset untuk dana pensiun. Semua impian bisa berantakan, cita-cita bisa kandas, bahkan kekayaan bisa ludes, hanya karena kita lupa menyertakan asuransi sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang.
Oleh karena itu, sekali lagi, lengkapi perencanaan keuangan anda dengan asuransi. Insya Allah, semua apa yang kita impikan bisa lebih terjamin pewujudannya.
(Sumber : http://myallisya.com/)
(Sumber : http://myallisya.com/)
►Diposkan oleh
:Yuuki Gasai
:
di
10:01:00 PM
Asuransi itu produk yang unik. Umumnya kita membeli produk karena kita membutuhkan produk tersebut. Tapi asuransi dibeli ketika kita tidak butuh. Jika kita membeli produk asuransi saat butuh, perusahaan asuransi malah tidak akan mau menjualnya kepada kita.
Ya. Itu karena asuransi adalah produk yang dibeli untuk kebutuhan berjaga-jaga terhadap risiko yang mungkin terjadi, di mana terjadinya risiko tersebut dapat terganggu kondisi keuangan kita. Dengan ikut asuransi, gangguan finansial dapat ditanggulangi.
Risiko yang mungkin terjadi dan dapat mengganggu kondisi keuangan antara lain sakit, kecelakaan, dan meninggal dunia. Khusus meninggal dunia, risiko keuangan diderita pihak yang ditinggalkan, utamanya jika yang meninggal dunia adalah sang pencari nafkah.
Nasihat bijak seorang tokoh terbesar sepanjang masa, Nabi Muhammad Saw., berikut ini sangat patut direnungkan. Beliau bersabda, “Manfaatkan yang lima sebelum datang yang lima.
1. Kaya sebelum miskin
2. Sehat sebelum sakit
3. Lapang sebelum sempit
4. Muda sebelum tua
5. Hidup sebelum mati.”
2. Sehat sebelum sakit
3. Lapang sebelum sempit
4. Muda sebelum tua
5. Hidup sebelum mati.”
►Diposkan oleh
:Yuuki Gasai
:
di
10:00:00 PM
Tahukah anda, asuransi jiwa bisa dipakai untuk mempersiapkan warisan? Malah asuransi jiwa adalah cara mempersiapkan warisan yang paling mudah, cepat, dan hasilnya besar.
Jika anda telah melewati umur 40 tahun, cek harta kekayaan anda, berapa jumlahnya. Dari jumlah itu, hitung berapa yang bisa diwariskan untuk anak-anak anda. Apakah mencapai 1 miliar? Jika sudah, tidakkah anda ingin menambahnya lagi? Siapa tahu di tengah jalan uang itu terpakai oleh anda untuk biaya berobat dsb, sebab semakin tua seseorang, semakin dekat ia dengan dokter dan obat-obatan.
Jika belum mencapai 1 miliar, atau malah jika belum ada sama sekali, tidakkah anda ingin memberikan warisan yang cukup besar untuk anak-keturunan anda, jika suatu saat anda dipanggil Yang Mahakuasa? Dengan warisan yang cukup besar itu, hidup mereka diharapkan dapat lebih baik daripada anda sendiri.
Di kala hidup, anda telah membesarkan dan mendidik mereka. Untuk itu saja mereka wajib berbakti dan memuliakan anda. Bayangkan betapa besar rasa terima kasih mereka kepada anda, orangtua mereka, jika setelah meninggal pun anda masih berbuat baik kepada mereka dengan meninggalkan sejumlah besar warisan yang berharga. Dengan begitu, doa-doa pun akan lebih tulus mereka hadiahkan untuk menyertai perjalanan anda di alam keabadian sana.
Sekarang mari kita berhitung lagi. Berapa lama waktu yang anda butuhkan untuk mengumpulkan 1 miliar? Jika anda berumur 40 tahun, anggaplah anda punya harapan hidup 25 tahun lagi (usia harapan hidup orang Indonesia sekitar 65 tahun). Dalam waktu 25 tahun itu, berapa yang harus anda kumpulkan tiap tahun untuk mencapai 1 miliar? Yaitu sekitar 40 juta setahun. Sanggupkah anda menyisihkan uang 40 juta setahun, atau sekitar 3,4 juta sebulan? Tarohlah anda sanggup. Maka pada usia 65, anda punya uang 1 miliar untuk anak-keturunan anda.
Sekarang mari kita berhitung lagi. Berapa lama waktu yang anda butuhkan untuk mengumpulkan 1 miliar? Jika anda berumur 40 tahun, anggaplah anda punya harapan hidup 25 tahun lagi (usia harapan hidup orang Indonesia sekitar 65 tahun). Dalam waktu 25 tahun itu, berapa yang harus anda kumpulkan tiap tahun untuk mencapai 1 miliar? Yaitu sekitar 40 juta setahun. Sanggupkah anda menyisihkan uang 40 juta setahun, atau sekitar 3,4 juta sebulan? Tarohlah anda sanggup. Maka pada usia 65, anda punya uang 1 miliar untuk anak-keturunan anda.
Bagaimana jika umur anda tidak mencapai 65? Berarti yang bisa diwariskan tak lebih sebesar uang yang berhasil anda kumpulkan.
Jika anda berumur 45 tahun, maka perkiraan waktu yang anda punya 20 tahun lagi, sehingga uang yang harus anda tabungkan lebih besar, yakni 50 juta setahun atau 4,2 juta sebulan.
Jika anda berumur 50 tahun, waktu anda sekitar 15 tahun, maka yang harus anda kumpulkan 67 juta setahun atau 5,6 juta sebulan.
Jika anda berumur 55 tahun, waktu anda sekitar 10 tahun, maka setoran anda 100 juta setahun atau 8,3 juta sebulan.
Jika anda berumur 60 tahun, mungkin waktu anda tinggal 5 tahun, maka yang harus anda tabung adalah 200 juta setahun atau 16,7 juta sebulan.
Apakah anda sanggup? Taruhlah anda sanggup, tapi jika ada cara yang lebih murah dan cepat dengan hasil besar, tidakkah anda mau mengambilnya?
Ya, cara cepat itu ada. Yaitu melalui asuransi jiwa. Asuransi jiwa yang berlaku seumur hidup.
Dengan asuransi jiwa, anda yang berumur 40 tahun cukup mengumpulkan uang tiap bulan 1,1 juta, atau per tahun 13,2 juta, maka uang 1 miliar sudah siap anda wariskan sejak pengajuan asuransi anda disetujui. Anda pun tak perlu mengumpulkan selama 25 tahun, melainkan cukup 10 tahun. Total yang anda keluarkan 132 juta, tapi yang anda wariskan 1 miliar plus. Plusnya adalah hasil investasi yang tersedia pada saat warisan dikeluarkan.
Jika anda berumur 45 tahun, maka yang anda kumpulkan cukup 1,5 juta per bulan.
Jika anda berumur 50 tahun, yang anda kumpulkan 2 juta per bulan.
Jika anda berumur 55 tahun, yang anda kumpulkan 3 juta per bulan.
Jika anda berumur 60 tahun, anda cukup menyetorkan 4 juta per bulan.
Dengan program ini, uang 1 miliar sudah anda miliki sejak bulan pertama, siap anda wariskan kapan pun kepada anak-keturunan anda.
Sekali lagi, bayangkan betapa besar rasa terima kasih mereka kepada anda, orangtua mereka, atas warisan yang mereka terima. Bayangkan doa-doa tulus yang akan mereka antarkan untuk menemani anda di alam sana.
Jika anda berumur cukup panjang, katakanlah sampai 70 tahun, 80 atau 90 tahun, uang 1 miliar itu tetap bisa anda wariskan. Malah anda dapat pula menikmati hasil investasi yang jumlahnya melebih total setoran anda, dan bisa jadi melebihi 1 miliar yang anda persiapkan untuk warisan. Hasil investasi ini dapat anda nikmati selagi hidup.
►Diposkan oleh
:Yuuki Gasai
:
di
9:59:00 PM
- Orang yang memiliki tanggungan ekonomi. Seorang ayah (yang biasanya merupakan pencari nafkah utama keluarga) wajib memiliki asuransi jiwa agar jika dia meninggal dunia terlalu cepat, istri dan anak-anaknya mendapatkan sejumlah uang untuk melanjutkan kehidupan. Ibu juga perlu asuransi jiwa jika ia ikut mencari nafkah.
- Orang yang memiliki utang. Orang yang berutang wajib memiliki asuransi jiwa, minimal sejumlah utangnya, agar jika dia meninggal dunia sebelum waktunya, utang itu tidak dia wariskan kepada istri, anak, atau kerabatnya yang masih hidup. Mendingan kalau mereka bisa dan mau melunasi utangnya. Kalau tidak bisa, maka si pengutang berpotensi tertahan di pintu surga (kalau dia ditakdirkan masuk surga; kalau ke neraka yang langsung saja).
- Orang yang hendak mempersiapkan warisan. Orang yang sudah kepala 4 atau 5, sudah saatnya berpikir apa yang hendak dia wariskan untuk anak-keturunannya. Jika hartanya sudah banyak, dia boleh tidak khawatir. Tapi kalau belum cukup karena penghasilannya habis terus untuk biaya hidup sehari-hari, maka perlulah dia memikirkan agar anak-anaknya bisa hidup lebih baik daripada dia. Tentunya warisan terbaik adalah iman dan ilmu. Tapi untuk mencapai iman yang mantap diperlukan ilmu, dan untuk meraih ilmu diperlukan harta.
►Diposkan oleh
:Yuuki Gasai
:
di
9:59:00 PM
belum datang 5 perkara. Sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, sempat sebelum sempit, muda sebelum tua, hidup sebelum mati. (Nabi Muhammad Saw).
Tiga Cita-cita
Keluarga muda adalah pasangan suami istri dengan satu atau dua anak yang masih kecil. Dengan karier yang umumnya sedang menanjak, mereka memerlukan suatu perencanaan keuangan yang komprehensif, karena “tugas keuangan” mereka masih banyak dan masih lama waktunya. Selain memenuhi biaya hidup sehari-hari untuk keluarga, ada sejumlah kebutuhan jangka panjang yang perlu dipersiapkan sejak dini. Setidaknya ada tiga momentum yang menanti mereka di masa depan:
- Pendidikan anak
- Perjalanan ibadah haji
- Masa pensiun
Pendidikan anak adalah sesuatu yang niscaya, dan mendidik anak merupakan kewajiban orangtua. Waktu terbaik mempersiapkan dana pendidikan anak adalah sedini mungkin, kalau perlu sejak anak masih dalam kandungan, karena semakin awal akan semakin murah cicilannya.
Ibadah haji merupakan kewajiban setiap muslim. Memang kewajiban ini hanya diperuntukkan bagi yang mampu. Tapi jika kita punya waktu yang cukup untuk bersiap-siap, saya yakin berangkat haji itu hanya masalah kemauan dan niat.
Masa pensiun juga akan dijalani oleh setiap orang yang dikaruniai usia normal. Setiap kita tentu tidak mau terus bekerja mencari uang seumur hidup. Cape dech. Tapi jika kita abai dengan persiapan yang satu ini, bukan tidak mungkin sampai usia senja pun kita masih harus bekerja. Ingat, dana pensiun bukan hanya monopoli kaum PNS. Setiap orang berhak dan bisa mempersiapkan sendiri dana pensiunnya.
Masa pensiun juga akan dijalani oleh setiap orang yang dikaruniai usia normal. Setiap kita tentu tidak mau terus bekerja mencari uang seumur hidup. Cape dech. Tapi jika kita abai dengan persiapan yang satu ini, bukan tidak mungkin sampai usia senja pun kita masih harus bekerja. Ingat, dana pensiun bukan hanya monopoli kaum PNS. Setiap orang berhak dan bisa mempersiapkan sendiri dana pensiunnya.
Selain yang tiga itu, tentu masih ada sejumlah cita-cita yang ingin diraih keluarga muda. Tiap orang bisa berbeda. Yang lazim misalnya punya rumah dan kendaraan dan barang-barang lain. Tapi kenapa rumah dan kendaraan tidak saya sebut, karena tanpa diingatkan pun orang sudah akan mengusahakan memperolehnya, minimal dengan cara mencicil. Sedangkan tiga cita-cita di atas kerapkali diabaikan meski sebetulnya juga bisa dicicil, yakni sejak sekarang.
Tiga Risiko
Selain tiga momentum tersebut, ada beberapa peristiwa dalam hidup yang kita semua tidak ingin mengalaminya, tapi itu mungkin saja terjadi. Terjadinya satu dari tiga risiko di bawah ini bisa menghambat bahkan menggagalkan tiga cita-cita kita di atas tadi.
- Sakit
- Kecelakaan
- Kematian di bawah usia harapan hidup
Sakit. Siapa yang dalam hidupnya tidak pernah sakit? Hampir pasti tidak ada. Sakit perlu biaya untuk menyembuhkannya. Semakin parah sakitnya, semakin besar biayanya. Pertanyaannya, kita mau berobat pakai uang sendiri atau ada yang bayarin?
Kecelakaan. Peluang terjadinya kecelakaan itu kecil (dari sekian ribu perjalanan kendaraan setiap hari, berapakah yang mengalami kecelakaan?), tapi dia menguntit siapa saja tanpa pandang bulu, baik yang ceroboh maupun yang berhati-hati. Ketika pagi ini kita berangkat ke kantor, siapa yang menjamin bahwa kita akan sampai di kantor dengan selamat?
Kecelakaan ada yang berakibat cacat (sebagian maupun total) ada yang tidak. Tapi kedua-duanya perlu biaya untuk memulihkannya. Jika kecelakaan itu mengakibatkan cacat, bukan hanya biaya yang diperlukan, tapi penghasilan kita pun jadi berkurang atau malah berhenti karena tidak bisa bekerja seperti sebelumnya.
Kecelakaan pun bisa mengakibatkan kematian.
Kematian. Siapa yang tahu umur manusia? Misteri. Apakah bisa terjadi pada orang muda usia? Bisa. Kematian tidak kenal usia. Dan jika hal ini terjadi pada orang yang menjadi tumpuan ekonomi keluarga, siapa yang sebenarnya terkena akibatnya? Bukan orang itu, karena dia sendiri sudah tidak butuh apa pun kecuali pahala dari amal baiknya (kalau ada). Yang merasakan akibat dari peristiwa kematian pencari nafkah utama adalah anggota keluarga yang ditinggalkan (istri, anak-anak).
Jika orang itu punya harta yang banyak, mungkin istri dan anak-anaknya tidak akan menderita kesusahan secara finansial. Tapi seorang muda biasanya belum punya harta yang banyak (kecuali bisnisnya sangat sukses). Yang ada malah utang (mungkin utang KPR, cicilan motor, dll), dan itulah yang mungkin dia wariskan kepada keturunannya.
Tapi sampai hatikah dia mewariskan utang kepada anak-keturunannya? Siapkah anak-keturunannya membayari utang dia? Jika siap, alhamdulillah. Jika tidak, bisa-bisa kelak dia tertahan di pintu surga (kalau ditakdirkan masuk surga; kalau ke neraka sih langsung aja).
Solusi Keuangan: Investasi Plus Asuransi
Cara terbaik mempersiapkan dana pendidikan anak adalah berinvestasi. Bukan menabung. Kenapa? Karena biaya pendidikan naik terus setiap tahun. Itulah yang disebut inflasi, dan inflasi di sektor pendidikan tergolong paling tinggi. Jika hanya menabung, maka nilai tabungan kita akan kalah oleh inflasi. Walaupun kita menabung di deposito, bunganya tidak akan kuat menahan kenaikan harga (inflasi). Saat ini bunga deposito rata-rata 4,5% (6% dipotong pajak 20%), sedangkan inflasi di sektor pendidikan sekurang-kurangnya 10%.
Di mana investasinya? Di mana saja, asalkan dia memberikan imbal hasil lebih besar daripada inflasi. Emas, perak, hewan ternak, dan tanah adalah contoh tempat berinvestasi yang aman dari tekanan inflasi. Orangtua-orangtua kita dulu melakukan ini untuk menyiapkan biaya pendidikan kita.
Tempat investasi lainnya adalah reksadana dan saham. Reksadana ada beberapa macam, antara lain reksadana saham, reksadana campuran saham-obligasi, dan reksadana campuran obligasi-deposito. Dana reksadana dikelola oleh manajer investasi yang andal di bidang investasi, kita tinggal nunggu laporan hasilnya. Berbeda dengan reksadana, saham adalah investasi langsung di pasar modal atau bursa efek. Di sini kitalah yang menjadi manajer investasi bagi diri kita sendiri.
Reksadana dan saham ini cara modern. Kita perlu “sedikit” belajar untuk menguasainya. Cara ini bisa menghasilkan retur yang lebih besar daripada emas dan perak, tapi risiko ruginya pun lebih besar pula.
Cara yang sama, yaitu investasi, dapat pula kita terapkan pada persiapan ibadah haji dan dana pensiun. Intinya, kita mengumpulkan uang untuk masa depan, namun jangan sampai nilainya tergerus oleh inflasi.
Sebagaimana disebutkan di atas, cita-cita bisa kandas jika terjadi risiko yang tidak diinginkan pada diri kita. Oleh karena itu, sembari kita berinvestasi, kita pun perlu melindungi diri kita dan keluarga dengan asuransi. Yang dilindungi oleh asuransi bukanlah risiko itu sendiri, melainkan keuangan kita. Misalnya, jika kita sakit lalu berobat, dana yang sedianya diinvestasikan jadi terpakai untuk bayar dokter. Jika biaya dokternya mahal, bisa-bisa hasil investasi yang sudah ada pun terpakai semuanya, atau malah kurang sehingga kita terpaksa harus pinjam uang.
Untuk melindungi dari sakit, kita butuh asuransi kesehatan. Jika kita orang kantoran, atau PNS, biasanya sudah ada askes dari kantor. Syukur alhamdulillah, walaupun kecukupannya masih perlu dipertanyakan.
Untuk melindungi dari kecelakaan dan kematian, kita butuh asuransi jiwa. Asuransi kecelakaan jarang yang berdiri sendiri; biasanya dia nempel pada asuransi jiwa.
Demi keluarga yang kita sayangi, berasuransi adalah suatu keniscayaan dalam perencanaan masa depan kita.
Sekarang ini ada produk asuransi yang menggabungkan proteksi dan investasi dalam satu rekening. Namanya unit link. Unit link memberikan proteksi dari sakit (sakit biasa maupun sakit kritis), kecelakaan, dan kematian; pada saat yang sama, juga menyediakan imbal hasil menguntungkan lewat investasi pada reksadana.
Sambil kita mempersiapkan cita-cita kita (pendidikan anak, ibadah haji, pensiun), kita pun mendapat perlindungan dari risiko-risiko (sakit, kecelakaan, kematian) yang mungkin menimpa di tengah perjalanan.
Demikian. Semoga Tuhan senantiasa menaungi kita dengan kesehatan dan keselamatan. Semoga cita-cita kita di masa depan menjadi kenyataan. Amin.
(Sumber : http://myallisya.com/)
(Sumber : http://myallisya.com/)
►Diposkan oleh
:Yuuki Gasai
:
di
9:58:00 PM
Subscribe to:
Comments (Atom)
Artikel Allianz
Disusun Oleh Rysva. Powered by Blogger.
